Integrasi BCP & ISO 31000 adalah pendekatan strategis dalam penerapan ISO 27001, di mana risk assessment menjadi fondasi utama untuk menentukan kontrol keamanan informasi yang tepat. Namun, dalam praktiknya masih banyak organisasi melakukan penilaian risiko secara terbatas dengan fokus pada ancaman teknis semata tanpa mengaitkannya dengan dampak bisnis secara menyeluruh. Akibatnya, kontrol yang diterapkan sering kali kurang selaras dengan prioritas bisnis dan kebutuhan keberlangsungan operasional.

Di sinilah integrasi BCP & ISO 31000 menjadi pendekatan yang semakin relevan. Dengan menggabungkan kerangka manajemen risiko ISO 31000 dan Business Continuity Planning (BCP), proses risk assessment ISO 27001 dapat menjadi lebih komprehensif, kontekstual, dan berorientasi pada ketahanan bisnis jangka panjang.

Memahami Konsep Dasar yang Terlibat

Apa Itu ISO 27001 dan Risk Assessment

ISO 27001 adalah standar internasional untuk Sistem Manajemen Keamanan Informasi (ISMS) yang bertujuan melindungi kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan informasi. Salah satu persyaratan utamanya adalah melakukan risk assessment untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi risiko terhadap aset informasi.

Risk assessment dalam ISO 27001 tidak sekadar formalitas audit. Proses ini menjadi fondasi dalam menentukan kontrol keamanan, menyusun Statement of Applicability (SoA), serta memastikan bahwa pengamanan yang diterapkan benar-benar relevan dengan risiko nyata yang dihadapi organisasi.

Apa Itu ISO 31000 sebagai Kerangka Manajemen Risiko

ISO 31000 adalah standar panduan manajemen risiko yang bersifat generik dan dapat diterapkan pada berbagai jenis risiko, baik strategis, operasional, finansial, maupun teknologi informasi. Standar ini menekankan pentingnya memahami konteks organisasi, melibatkan pemangku kepentingan, serta menerapkan pendekatan risk-based thinking secara berkelanjutan. Dalam konteks ISO 27001, ISO 31000 membantu organisasi melihat risiko keamanan informasi sebagai bagian dari risiko bisnis secara keseluruhan, bukan berdiri sendiri di ranah teknis IT.

Apa Itu BCP (Business Continuity Planning)

Business Continuity Planning (BCP) adalah proses perencanaan untuk memastikan organisasi tetap dapat beroperasi atau segera pulih ketika terjadi gangguan signifikan, seperti serangan siber, bencana alam, kegagalan sistem, atau krisis operasional lainnya. BCP biasanya didukung oleh Business Impact Analysis (BIA), yang bertujuan mengidentifikasi proses bisnis kritikal, toleransi downtime, serta dampak finansial dan non-finansial jika terjadi gangguan.

Baca Juga: Apa Itu Keamanan Informasi: Pengertian dan Prinsipnya (CIA Triad)

Mengapa Integrasi BCP & ISO 31000 Penting untuk ISO 27001

Jika risk assessment ISO 27001 dilakukan tanpa perspektif ISO 31000 dan BCP, organisasi berisiko:

  • Menilai risiko tanpa memahami dampak bisnis yang sesungguhnya
  • Kesulitan menentukan prioritas mitigasi risiko
  • Menerapkan kontrol keamanan yang tidak sebanding dengan tingkat kritikal proses bisnis

Pendekatan ini sering kali menghasilkan risk register yang “lengkap secara administratif”, namun kurang efektif secara strategis.

Dengan Integrasi BCP & ISO 31000, organisasi memperoleh pendekatan yang lebih holistik. Risiko keamanan informasi tidak hanya dinilai dari sisi kemungkinan dan dampaknya terhadap sistem, tetapi juga dari pengaruhnya terhadap kelangsungan proses bisnis utama.

Integrasi ini memungkinkan organisasi untuk:

  • Menyelaraskan risiko keamanan, risiko operasional, dan risiko strategis
  • Menghubungkan hasil risk assessment dengan skenario gangguan nyata
  • Menguatkan justifikasi kontrol ISO 27001 berbasis dampak bisnis

Integrasi BCP & ISO 31000 dalam Proses Risk Assessment ISO 27001

1. Identifikasi Risiko Terpadu

Langkah awal adalah memahami konteks organisasi sesuai ISO 31000, termasuk tujuan bisnis, lingkungan internal-eksternal, serta kebutuhan pemangku kepentingan. Dari sini, organisasi dapat mengidentifikasi aset informasi kritikal yang mendukung proses bisnis utama.

BCP kemudian melengkapi proses ini dengan skenario gangguan, seperti kegagalan sistem utama, serangan ransomware, atau gangguan pihak ketiga. Hasilnya adalah daftar risiko yang lebih realistis dan relevan.

2. Analisis dan Evaluasi Risiko Berbasis Dampak Bisnis

Pada tahap analisis, likelihood dan impact risiko tidak hanya dinilai secara teknis, tetapi juga dikaitkan dengan hasil BIA. Misalnya, gangguan pada sistem tertentu mungkin berdampak kecil secara teknis, tetapi sangat kritikal bagi operasional bisnis. Dengan pendekatan ini, evaluasi risiko menjadi lebih akurat karena mempertimbangkan toleransi risiko dan prioritas bisnis organisasi.

3. Penentuan Risk Treatment yang Lebih Akurat

Hasil integrasi memungkinkan organisasi menentukan risk treatment yang lebih tepat sasaran. Kontrol ISO 27001 dipilih dan diprioritaskan berdasarkan:

  • Tingkat risiko
  • Dampak terhadap proses bisnis kritikal
  • Strategi pemulihan yang telah ditetapkan dalam BCP

Pendekatan ini memastikan bahwa investasi keamanan informasi memberikan nilai nyata bagi bisnis.

Contoh Penerapan Integrasi BCP & ISO 31000

1. Risiko Serangan Ransomware pada Sistem Operasional Kritis

Dalam risk assessment ISO 27001, organisasi mengidentifikasi risiko serangan ransomware pada server utama. Melalui pendekatan ISO 31000, risiko ini dianalisis dengan mempertimbangkan konteks bisnis, tingkat toleransi risiko, serta dampaknya terhadap tujuan organisasi.

Selanjutnya, BCP digunakan untuk menilai dampak gangguan melalui Business Impact Analysis (BIA), seperti potensi downtime layanan, kehilangan pendapatan, dan dampak reputasi. Hasil integrasi ini membantu organisasi memprioritaskan kontrol keamanan, seperti backup terisolasi, incident response plan, dan prosedur pemulihan yang jelas sesuai tingkat kritikal proses bisnis.

2. Gangguan Layanan Akibat Kegagalan Infrastruktur IT

Organisasi mengidentifikasi risiko kegagalan data center atau layanan cloud sebagai bagian dari risk register ISO 27001. Dengan ISO 31000, risiko dievaluasi secara menyeluruh, termasuk kemungkinan kejadian, konsekuensi bisnis, serta risiko residu yang dapat diterima.

Melalui BCP, organisasi menetapkan skenario gangguan, target waktu pemulihan (RTO), dan batas toleransi kehilangan data (RPO). Integrasi ini memastikan bahwa kontrol ISO 27001, seperti redundansi sistem dan failover, benar-benar mendukung strategi keberlangsungan bisnis dan bukan sekadar memenuhi persyaratan audit.

3. Risiko Ketergantungan pada Pihak Ketiga (Third Party Risk)

Dalam penerapan ISO 27001, organisasi mengidentifikasi risiko keamanan informasi yang berasal dari vendor atau mitra bisnis. Dengan ISO 31000, risiko pihak ketiga dianalisis berdasarkan dampaknya terhadap operasional, kepatuhan, dan keberlanjutan bisnis.

BCP kemudian digunakan untuk menyusun rencana kontinjensi apabila pihak ketiga mengalami gangguan, seperti kegagalan layanan atau insiden keamanan. Hasil integrasi ini mendorong organisasi menetapkan kontrol tambahan, seperti klausul keamanan kontrak, vendor assessment berkala, dan alternatif penyedia layanan untuk menjaga kontinuitas proses bisnis kritikal.

Baca Juga: Daftar Pertanyaan Audit Internal ISO 27001, Cek Ini Contohnya

Manfaat Bisnis dari Integrasi BCP & ISO 31000

1. Peningkatan Ketahanan dan Resiliensi Organisasi

Integrasi ini membantu organisasi lebih siap menghadapi insiden, mengurangi downtime, serta meminimalkan kerugian finansial dan reputasi.

2. Meningkatkan Kepatuhan dan Kesiapan Audit ISO 27001

Risk assessment yang terstruktur, kontekstual, dan terdokumentasi dengan baik lebih mudah dipertanggungjawabkan di hadapan auditor.

3. Mendukung Keberlanjutan Bisnis Jangka Panjang

Pendekatan berbasis risiko yang matang membantu manajemen mengambil keputusan strategis yang seimbang antara keamanan, biaya, dan keberlangsungan bisnis.

Tantangan dan Best Practice dalam Integrasi

Beberapa tantangan yang sering muncul antara lain silo antar fungsi, kompleksitas dokumentasi, dan kurangnya pemahaman lintas departemen. Best practice yang dapat diterapkan meliputi:

  • Kolaborasi lintas fungsi antara IT, risk, dan bisnis
  • Review risiko dan BCP secara berkala
  • Menjadikan framework sebagai alat strategis, bukan sekadar pemenuhan compliance

Kesimpulan

Keamanan informasi bukan lagi sekadar centang hijau pada audit, melainkan fondasi keberlangsungan bisnis Anda. Dengan mengintegrasikan ISO 31000 dan BCP ke dalam ISO 27001, organisasi Anda tidak hanya “patuh” secara dokumen, tapi benar-benar tangguh menghadapi disrupsi yang tak terduga.

Jangan biarkan risiko yang terlewat mengganggu kelancaran operasional bisnis Anda. 3AC menghadirkan jasa konsultasi ISO 27001 dengan standar kualitas Jepang untuk memastikan sistem manajemen keamanan informasi dibangun secara akurat dan menyeluruh. Mulai dari analisis risiko yang komprehensif hingga persiapan audit end to end, kami siap mendampingi Anda sebagai mitra strategis.

Siap membangun sistem yang lebih dari sekadar aman? Hubungi Konsultan Kami Sekarang